You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Penaruban
Penaruban

Kec. Bukateja, Kab. Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah

Situs web Desa Penaruban menyediakan berbagai informasi publik, termasuk artikel tentang asal usul desa, data wilayah, dan susunan pemerintahan yang diperbarui secara berkala

Bersihkan Makam Leluhur

Pemdes Penaruban 09 Februari 2026 Dibaca 8 Kali

Judul: "Semangat Gotong Royong Membara: Warga Desa Penaruan Berduyun-duyun Bersihkan Makam Leluhur di Hari Minggu"

Byline: Kontributor Desa Penaruan, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga.

Tanggal Publikasi: Senin, 9 Februari 2026

PENARUAN, PURBALINGGA – Suasana pagi Minggu, 8 Februari 2026, di Desa Penaruan, Kecamatan Bukateja, tidak seperti hari Minggu biasanya. Alih-alih beristirahat di rumah, ratusan warga justru berbondong-bondong menuju dua lokasi pemakaman umum desa dengan membawa berbagai peralatan kebersihan. Semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap nilai-nilai leluhur menjadi pemandangan yang menghangatkan hati di tengah terik matahari yang mulai menyengat. Kegiatan gotong royong bersih-bersih makam ini merupakan inisiatif bersama Pemerintah Desa Penaruan dan masyarakat, sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menjaga keindahan serta kerapian tempat peristirahatan terakhir para pendahulu.

Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB itu terpusat di dua titik: Makam Umum Pejaten dan Makam Umum Karanggude. Kedua lokasi tersebut memiliki luas yang signifikan dan membutuhkan tenaga ekstra untuk dibersihkan secara keseluruhan. Dengan koordinasi yang apik dari perangkat desa, warga terbagi secara sukarela ke dalam dua kelompok besar berdasarkan kedekatan tempat tinggal dan inisiatif pribadi.

Di Makam Umum Pejaten yang memiliki luas area 2.704 meter persegi, sebanyak 74 orang warga turun tangan. Mereka dengan teliti membersihkan setiap sudut makam. Rumput liar yang tumbuh tinggi di sekitar nisan dipotong dengan sabit dan mesin pemotong rumput. Sampah-sampah daun kering yang berserakan disapu dan dikumpulkan. Para relawan juga membersihkan lumut yang menempel pada batu nisan, menyiangi gulma di pinggir-pinggir makam, serta merapikan jalan setapak yang ada di area tersebut. Suara gemerisik sapu, deru mesin pemotong rumput, dan canda tawa warga saling bersahutan menciptakan simfoni kerja bakti yang penuh kekeluargaan.

Sementara itu, di Makam Umum Karanggude yang lebih luas, yaitu 4.400 meter persegi, semangat gotong royong tampak bahkan lebih besar. Sebanyak 128 orang warga, terdiri dari berbagai usia, dari remaja hingga orang tua, bahu-membahu mengatasi area yang lebih luas. Pembagian tugas berjalan lancar; kelompok muda dan yang kuat mengurusi pemotongan rumput dan semak belukar yang sudah tinggi, sementara kelompok lainnya fokus pada penyapuan, pengumpulan sampah, dan pembersihan nisan. Luasnya area Karanggude tidak menyurutkan semangat mereka, justru menjadi pemersatu bahwa pekerjaan besar akan cepat selesai jika dikerjakan bersama-sama

Kepala Desa Penaruan, Kamsir, S.Sos., yang turut serta mengawasi dan terjun langsung dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi yang tinggi atas partisipasi warganya. “Ini adalah bukti nyata bahwa semangat gotong royong, ‘sambat-sinambat’, masih sangat hidup dan kuat di hati masyarakat Desa Penaruan. Kegiatan bersih makam ini bukan sekadar kerja bakti biasa, tetapi bagian dari tradisi dan budaya menghormati leluhur (culture of honouring ancestors) serta upaya kita bersama menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan desa,” ujarnya di sela-sela kegiatan.

Kamsir menambahkan bahwa kegiatan ini juga memiliki dimensi sosial yang penting. “Di sini, lintas generasi bertemu. Para orang tua bisa bercerita tentang sejarah desa dan orang-orang yang dimakamkan di sini kepada anak-anak muda. Ini adalah pendidikan karakter dan pewarisan nilai-nilai luhur yang tak ternilai harganya,” paparnya.

Sekretaris Desa Penaruan, Sumarno, yang bertindak sebagai koordinator lapangan, menjelaskan bahwa persiapan kegiatan telah dilakukan seminggu sebelumnya melalui pengumuman di masjid-masjid, grup media sosial warga, dan penyebaran informasi dari mulut ke mulut. “Alhamdulillah respons warga luar biasa. Kami juga menyediakan air minum dan sedikit konsumsi untuk para relawan sebagai bentuk terima kasih. Semua peralatan dibawa secara mandiri oleh warga, ini murni swadaya masyarakat,” jelas Sumarno.

Salah seorang peserta, Sukardi (52), warga Dusun Penaruan, mengungkapkan kegembiraannya bisa terlibat. “Ini makam orang tua saya juga di sini. Sudah menjadi kewajiban anak cucu untuk merawatnya. Selain itu, dengan bersih seperti ini, saat hari-hari tertentu seperti ziarah menjelang Ramadan atau Syawalan, keluarga yang datang akan merasa nyaman. Kerja bakti seperti ini juga ajang silaturahmi dengan tetangga yang mungkin sehari-hari jarang bertemu,” tuturnya sambil menyeka keringat.

Semangat yang sama terpancar dari wajah Dian Pratwi (17), seorang pelajar SMA yang ikut serta bersama teman-temannya. “Awalnya diajak orang tua, tapi sekarang senang bisa ikut. Rasanya bangga bisa berkontribusi untuk desa. Ternyata kerja bakti seru juga, bisa ngobrol sama banyak orang dan lihat langsung hasil kerja kita yang bikin makam jadi bersih dan rapi,” ujarnya dengan semangat.

Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 11.00 WIB tersebut berhasil mengubah wajah kedua pemakaman umum itu. Area yang sebelumnya dipenuhi semak dan rumput liar kini terlihat rapi dan terbuka. Jalan setapak menjadi jelas, dan nisan-nisan tampak lebih terawat. Tumpukan sampah daun dan ranting berhasil dikumpulkan untuk kemudian diangkut oleh petugas kebersihan desa.

Dampak dari kegiatan ini diharapkan tidak hanya bersifat fisik. Kepala Desa Kamsir berharap kegiatan ini dapat memicu kesadaran kolektif untuk terus menjaga kebersihan makam secara berkelanjutan, tidak hanya menunggu momentum kerja bakti massal. “Ke depan, kami akan mendorong pembentukan kelompok perawatan dari masing-masing lingkungan agar pemeliharaan bisa lebih rutin. Mungkin juga akan ada penataan lanjutan, seperti penanaman tanaman bunga yang teduh di beberapa titik,” pungkasnya.

Dengan ditutupnya kegiatan bersih-bersih makam ini, Desa Penaruan kembali menunjukkan kepada dunia bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, nilai-nilai kebersamaan, penghormatan pada leluhur, dan cinta pada lingkungan tetap menjadi pondasi kokoh yang dijaga bersama. Kegiatan ini bukan sekadar membersihkan kuburan, tetapi lebih tentang membersihkan hati, menguatkan ikatan sosial, dan merawat akar budaya yang menjadi identitas masyarakat desa. Sebuah teladan nyata bahwa dari desa, semangat gotong royong yang menjadi jiwa bangsa Indonesia tetap lestari.

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan